Wednesday, March 08, 2006

1996 (1)


Januari, 15

hujan agaknya di luar
bagai partai politik yang lupa hakikat
warna tanah
lantaran begitu banyak dusta
berbau amis seusai makan malam
yang menggumpal menjelma awan

22 tahun lampau kota kita membara
lantaran menampik haiku dan origami
padahal perlu kita berolah kata
padahal perlu kita melatih tangan, katanya

hujan agaknya di luar
bagai negara yang limbung kehilangan
rusuk
lantaran buah dusta bertahun lampau
adalah kata yang terampil menarik pelatuk
adalah tangan yang tak tahu harga nyawa

22 tahun setelah itu
kota telah kehilangan daya
menolak langit yang makin deras
memuntahkan peluru

Tuesday, March 07, 2006

METAMORFOSIS TAUTAU



(Catatan 1994)

Selalu akan kutulis sesuatu yang tak sanggup kau ungkapkan.
Selalu.
Begitu pula ketika aku menemukan tautau di dinding-dinding bukit karang Tana Toraja dalam suatu perjalanan bersama I Goesti Agung Bagoes, sahabatku yang Bali, beberapa waktu lampau.
Begitu pula ketika tautau itu kemudian maujud sebagai orang-orang yang kukenal, orang-orang yang dapat kutandai, orang-orang yang ternyata bukan lagi orang karena mereka ternyata hidup sebagai dan lebih merupakan fungsi-fungsi.
Setiap hari aku berjumpa dengan manajer dan mahasiswa, direktur dan dosen, wartawan dan seniman, polisi dan politisi, tukang becak dan penjaja air; semua yang kutemui itu, ternyata, adalah fungsi-fungsi. Dan kalau kurenung-renungkan, mereka sejatinya bukan lagi manusia yang hadir dengan segala kehangatan kemanusiannya. Mereka lebih merupakan fungsi, merupakan tautau.
Lalu, dalam komunikasi antar fungsi itu, kehangatan kemanusiaan telah bergeser ke balik dinding yang sangat tersembunyi, seperti jasad yang telah ditelan gua-gua Tana Toraja itu.
Tetapi, karena aku masih percaya bahwa bagaimanapun manusia takkan bisa mati-mati, maka yang kupercaya saat ini tinggal cinta. Cinta yang entah mengapa juga telah mengungsi ke wilayah-wilayah yang lain yang sangat tersembunyi.
Sehingga, kalau aku mesti merumuskan cita-citaku, sesuatu yang sesungguhnya sangat sulit kulakukan, maka aku akan mengatakan:
Selalu akan kutulis apa yang tak sanggup kau ungkapkan.
Sesuatu yang kau tahu, kau mengerti, kau sadari, tetapi tak sanggup kau ungkapkan, kau katakan, karena memang ada sesuatu di luar sana yang sangat menentukan apa yang boleh dan apa yang tak boleh. Sejenis kesiur angin yang datang kemudian memagari bahkan angan-angan kita sekalipun.
Karena itu, kita ternyata adalah satu fase dari sebuah proses metamorfosis.
Dengan ini kubaca sajak-sajakku.

Makassar, 20 Oktober 1994

TANDA TAK TERKATAKAN



seperti lagu berirama rumba
pernah ada niatku berberita padamu
tentang tangkai bunga karang yang membayang
di dasar samudera yang mengelilingi pulauku
tapi segera kuurungkan, adinda
sebab aku tahu kamu tak suka dansa
dan malam-malamku adalah penantian dingin
di sebuah café terpencil
ditemani segelas soda tak tersentuh

saat-saat seperti itu, adinda
kamu pasti berlutut depan altar
menyilangkan tangan mendekap hatimu
menderas firman-firman terpilih
dan mengenang percintaanmu yang pertama
yang membawamu ke dusun-dusun tak bernama
hingga kamu mengerti adenin ada di sini
di sisi sebuah suara tak terkatakan
diantara tuhan dan kematian

o, angin yang menggigil di luar sana
kerinduankah yang kau bawa ke reranting bergetar itu
atau suatu percobaan beratus kali
menorehkan tanda dari cinta
yang begitu pandai mencederai

seperti sebuah lagu tak terkatakan
inilah aku, adinda
seorang lelaki di dalam malam yang tak pernah terucapkan

Makassar, 17 Oktober 1994

Monday, March 06, 2006

POST SCRIPTUM IBU PERTIWI



sebilah angin menampar wilayah dalamku
adalah wajahmu yang terbit menghantar
sisa fajar menitiskan matahari

di tebing mana aku mesti berpijak
menangkal turunnya senja
agar tersedia waktu bagi pelayaran
di hamparan alang-alang
menahan laju kesangsian
agar tercipta ruang yang memadat
titian bagi cinta melata ke kenyataan

(padahal belum kubasuh tangan yang memenggal
almanak kala kelembutan jamahan hatimu
membelai wilayah rahasiaku)

o, anak matahari kiriman langit
putri sulung sang kesucian
geliat samudera remajamu
(pada gelombang dadamu yang subur)
hamparan langit kemudaanmu
(pada bau napasmu yang jujur)
membalur bumi ketakberdayaanku
mengguratkan tanda tangan
di selembar surat cinta


Makassar, 6 Juni 1994